Select Page
Bagikan artikel ini:

Meriah, megah dan sangat beragam, mungkin kata itu yang tergambar saat melihat warna-warna makanan di bagian tengah pulau jawa. Dari banyaknya makanan yang terhidang, ada 1 bahan istimewa yang selau ada di setiap sajian masakan Jawa, yaitu gula. Coba saja kita lihat, dari lauk, minuman sampai sambal yang dibuat, butir-butiran manis ini tidak pernah terlewat untuk dicampur. Tapi darimana  sebenarnya kegemaran gula ini berasal, mengapa rakyat di pulau jawa, terutama jawa tengah dan Jogja sangat suka makanan manis?

Dalam kisah Ramayanan, ternyata Rama tidak hanya makan masakan manis, jika kita beralih ke teks-tek jawa kuno, popularitas masakan manis ini juga belum muncul. Memang dalam ajaran agama Hindu, rasa manis harus ada dalam setiap masakan. Namun rasa ini harus juga dilengkapi oleh 5 rasa yang lain untuk menciptakan keseimbangan yang harmonis. Kalau begitu, darimana rasa manis yang sangat menonjol di masakan jawa tengah sekarang?  Mungkin kegemaran ini bisa kita lacak dari Jawa Kuno, tapi ternyata baru muncul saat penjajahan bangsa Belanda.

tanam paksa

Saat itu, tanam paksa diberlakukan untuk mengisi kas Belanda yang habis akibat perang melawan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun (1925-1830). Alasan ini juga diperkuat oleh buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto yang terbit pada pada 1986. Menurut kedua buku itu, semua berawal pada tahun 1830, ketika Belanda menjajah Indonesia. Pada waktu itu Gubernur Jenderal Van der Bosch yang berkuasa di Hindia Belanda (Indonesia kala itu) memberlakukan sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel.

Tanam paksa yang diberlakukan Van der Bosch, bertujuan untuk mengisi kas Belanda yang kosong karena terkuras oleh perang berkepanjangan melawan Pangeran Diponegoro dan pasukannya, atau yang terkenal disebut dengan Perang Jawa (De Java Orloog) yang berlangsung pada 1825-1830.

Perang berkepanjangan itu sangat merugikan Belanda. Tercatat ada 200 ribu orang di Jawa tewas selama peperangan. Sedangkan di pihak Belanda, diperkirakan ada sekitar 8.000 prajurit Eropa terbunuh dan 7.000 prajurit yang direkrut Belanda di Nusantara juga tewas.

Petani di Indonesia, diwajibkan untuk menanam tanaman yang bernilai tinggi untuk diekspor, seperti tebu, teh, dan kopi. Di Jawa Barat, petani harus menanam teh. Sementara itu di Jawa Tengah dan Jawa Timur harus menanam tebu. Seratus pabrik gula berdiri di wilayah tersebut selama tanam paksa diberlakukanBanyak sawah sumber karbohidrat yang harus diganti menjadi ladang tebu.

Selama kurang-lebih sembilan tahun cultuurstelsel berlangsung, 70% sawah diubah menjadi perkebunan tebu. Sejalan dengan semakin banyaknya sawah yang dikonversi menjadi perkebunan tebu, didirikan pula ratusan pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur, demi memaksimal hasil produksi.

Untuk menggerakkan produksi gula secara besar-besaran itu, ada sekitar sejuta petani tebu dan 60 ribu buruh pabrik yang dipekerjakan oleh Belanda.

Akibat eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh Belanda, rakyat di Jawa mengalami kelaparan. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sebab tidak ada lagi lahan untuk menghasilkan bahan makanan.

Saat kondisi serba sulit, orang Jawa kembali membuktikan ketangguhannya dalam memenuhi kebutuhan pangan. Hal tersebut mengingatkan kita akan kisah terciptanya sayur lodeh.

Ketika perang antara Kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung melawan VOC (perusahaan dagang Belanda) di Batavia. Pasukan Mataram kehabisan makanan, namun karena ketangguhan dan kreativitasnya, sisa bahan makanan yang ada dimasak sedemikian rupa sehingga terciptalah sayur lodeh yang konon berasal dari istilah Betawi, “terserah lo deh.”

Kondisi serupa juga terjadi pada masa krisis pangan yang terjadi dari tahun 1830-1870-an itu. Karena hanya tersedia tebu, akhirnya masyarakat Jawa menjadikannya alternatif untuk bertahan hidup. Semua olahan masakannya pun menggunakan air perasan tebu sehingga masyarakat Jawa sangat akrab dengan rasa manis. Alhasil, hingga kini kuliner khas Jawa identik dengan rasa manis yang amat legit. Bahkan, ada yang mengatakan sambal di Jawa pun terasa manis, meski tidak bisa digeneralisasi.

Tanam paksa oleh Belanda dihapus pada 1870 dan bisnis gula beralih ke swasta Belanda, orang Tionghoa, dan raja-raja Jawa. Keraton memiliki kemakmuran dari pabrik gula yang dimilikinya. Pabrik gula Tasikmadu yang terletak di Kabupaten Karanganyar misalnya. Dulu sebelum dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX, pabrik gula Tasikmadu pernah dimiliki oleh Mangkunegaran.

Masakan

Pada 1930 bisnis gula mulai meredup karena krisis ekonomi. Namun ternyata kemakmuran yang diperoleh dari bisnis gula telah merubah gaya hidup para priyayi keraton. Salah satunya dalam selera kuliner. Mereka kaum bagsawan telah terbiasa mengonsumsi makanan-makanan manis. Mudahnya pasokan gula di Jawa kala itu menjadikan rasa manis lebih dominan pada masakan-masakan jawa hingga sekarang ini.

Seiring waktu walaupun perselisihan masih ada, pertukaran budaya tetaplah terjadi. Keraton yang sering menerima tamu dari Belanda, lamban laun muncul ketertarikan kulinernya. Makanan yang hanya kita temui di restoran Eropa, dapat kita temui versi lokalnya. Contohnya Selat Solo yang dikenal juga dengan nama Bistik Jawa. Rasanya manis gurih dengan sedikit asam dari saus mustard dan cuka. Masakan 1 ini sangat unik sekali, walaupun keliatannya seperti makanan Barat, namun ada bumbu-bumbu yang bikin rasanya  menjadi lokal banget. Akankah tidak lengap jika kami tidak memberikan resep Selat Solo atau Bistik Ayam rekomendasi Djawa Kitchen…

makanan khas jawa

Bahan-bahan:

  • Daging sapi has dalam, potong tipis – 500 gram
  • Bawang bombay besar, iris memanjang – 1 butir
  • Tomat merah, potong-potong – 2 buah
  • Kayu manis – 2 cm
  • Cengkek bubuk – 1/2 sdt
  • Pala bubuk – 1sdt
  • Air – 600 ml
  • MArgarin untuk menumis – 2 sdm

Bumbu halus :

  • Bawang putih – 5 siung
  • Merica bubuk – 1 sdt
  • Garam – 1/2 sdt
  • Gula jawa – 1/2 sdm

Mayonais Jawa:

  • Air – 250 ml
  • Margarin – 3 sdm
  • Tepung terigu, larutkan dengan 4 sdm air – 2 sdm
  • Kuning telur, kocok lepas – 2 butir
  • Saus mustard – 1 sdt
  • Garam – 1 sdt
  • Gula pasir – 2 sdm
  • Cuka – 1 sdm

Pelngkap:

  • Daun selada – 1 ikat
  • Buncis, potong 4 cm lalu rebus – 200 gram
  • Wortel, potong 4 cm lalu rebus – 150 gr
  • Kentang, belah jadi 4 lalu rebus setengah matang dan goreng – 200 gr
  • Telur rebus, belah jadi 2 bagian – 3 butir

 

Langkah-langkah:

Cara membuat selat

  1. Panaskan margarin lalu tumis bawang bombay dan bumbu halus hingga harum.
  2. Masukkan daging, tomat, kayu manis, cengkeh, pala, kecap dan air. Masak hingga daging empuk. Tambahkan airnya bila daging belum empuk namun air sudah hampir habis. Angkat.
  3. Siap disajikan.

 

Cara membuat mayonais

  1. Dalam panci atau wajan kecil, panaskan air dan margarin, aduk rata.
  2. Tuang larutan terigu, aduk rata.
  3. Masukkan mustard, garam, gula dan cuka. Aduk rata lalu angkat.
  4. Masukkan kocokan telur, aduk rata.
  5. Panaskan kembali panci dengan api kecil. Adukrata Angkat.
  6. Siap disajikan.

 

Penyajian

  1. Dalam piring, tata 3 lembar daun selada.
  2. Taruh beberapa irisan daging.
  3. Taruh beberapa potong kentang goreng, buncis rebus, wortel rebus dan telur rebus.
  4. Tuang kuah rebusan daging dan sajikan dengan mayonais.

Semoga bermanfaat untuk teman-teman, dan jangan lupa pesan produk Djawa Kitchen disini. Kunjungi juga blog kami untuk mengetahui resep masakan Jawa dan wisata kuliner rekomendasi dari kami. Selamat beraktivitas!!!

 

 

 

Bagikan artikel ini: