Select Page
Bagikan artikel ini:

Warung Makan Khas Tegal di Jepang

FAKTA UNIK TENTANG WARTEG YANG ORANG INDONESIA HARUS TAHU | Radio Cakra 90.5 FM – INGAT RADIO INGAT CAKRA

Siapa sih yang nggak tahu warteg? Yup! Warteg adalah singkatan dari Warung Tegal. Warteg ini biasanya menjadi favorit bagi para mahasiswa, kenapa? Karena harga yang sangat bersahabat, rasa yang enak, serta porsi yang melimpah.

Warung Tegal adalah salah satu jenis usaha gastronomi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga relatif terjangkau. Dengan begitu, kata warteg sering di konotasikan sebagai warung makan kelas menengah ke bawah yang ada di pinggir jalan. Penggunaan istilah warung Tegal saat ini sudah semakin luas, berlaku baik untuk warung makan yang berada di kota Tegal maupun di kota lain, baik yang dikelola oleh orang asli Tegal maupun dari daerah lain.

Warteg pada awalnya banyak dikelola oleh masyarakat dari dua desa di Kabupaten Tegal dan satu desa di Kota Tegal yaitu warga desa Sidapurna dan desa Sidakaton, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, serta desa Krandon di Kota Tegal. Mereka mengelola warung tegal secara bergiliran (antar keluarga dalam satu ikatan famili) setiap 3 s/d 4 bulan. Yang tidak mendapat giliran mengelola warung biasanya bertani di kampung halamannya. Pengelola warteg-warteg di Jakarta yang merupakan orang asli Tegal biasanya tergabung dalam Koperasi Warung Tegal, yang populer dengan singkatan Kowarteg. Hingga saat ini Kowarteg masih berdisi dan diketuai oleh Sastoro.

Hidangan-hidangan di warteg pada umumnya bersifat sederhana dan tidak memerlukan teknik memasak yang rumit dan peralatan dapur yang sangat lengkap. Nasi goreng dan mie instan hampir selalu dapat ditemui. Makanan rumahan seperti tempe orek, telur dadar, tumis kentang, dan aneka olahan sayur juga menjadi menu andalan. Demikian pula makanan ringan seperti pisang goreng, bakwan, tahu goreng, serta tidak ketinggalan minuman untuk mendampingi makanan seperti kopi, teh, dan minuman kemasan. Beberapa warteg menghidangkan beberapa jenis makanan khusus, seperti sate tegal, gulai, dan minuman khas Tegal yaitu teh poci.

Menjamurnya warteg sebagai solusi untuk mendapatkan makanan enak dan murah, hingga saat ini tercatat ada lebih dari 34.000 warteg di area Jabodetabek. Bahkan menurut Asmawi selaku Penasihat Asosiasi Koperasi Warteg, menjelaskan bahwa tidak hanya di Indonesia, warteg kini juga hadir di luar negeri.

Nah, kali ini Djawa Kitchen ingin membahas tentang salah satu warteg yang berbeda dari warteg-warteg yang sering kita ketahui. Warteg ini spesial karena berada di daerah Shinjuku, Kota Tokyo, Jepang.

Warteg unik ini bernama “MONGGO MORO”. Merupakan restoran Indonesia yang terletak di daerah Shinjuku, Kota Tokyo, Jepang. Nama warteg ini diambil dari Bahasa Jawa. Monggo yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Silahkan”, dan Moro yang berarti “Datang”.

Monggo Moro: Restoran Indonesia Baru di Dekat Stasiun Shin-Okubo! - IKIDANE NIPPON

Shinjuku adalah ibu kota perjalanan Tokyo, dan berisi stasiun kereta tersibuk di dunia. Untuk di barat, ada distrik perkantoran dengan Tokyo Kantor Pemerintah Metropolitan di pusatnya. Ke timur, ada distrik yang sudah lama berdiri department store, bioskop dan teater. Shinjuku Gyoen adalah taman yang awalnya dibangun sebagai taman untuk Rumah Tangga Kekaisaran. Tempat ini cukup terkenal sebagai tempat acara melihat bunga sakura di bulan Maret dan April. Di Shinjuku, banyak restoran beroperasi sepanjang malam, dan distrik seperti Omoide Yokocho (Memory Lane) atau Shinjuku Golden Machi memiliki jalan belakang yang dipenuhi restoran dan bar kecil yang mencerminkan pemilik masing-masing rasa dan gaya yang unik.

Sistemnya sama dengan warteg yang ada di Indonesia. Semua menu makanan dijejer dalam satu rak dan pengunjung memilih menu apa yang diinginkan dengan cara menunjuk menu dibalik kaca. Touch screen manual katanya, hehe.

Owner warteg Monggo Moro ini adalah Ibu Retno. Beliau kurang lebih sudah 10 tahun menetap di Jepang. Semua menu makanan di Monggo Moro ini beliau yang memasak. Ibu Retno tidak sendiri, beliau mempekerjakan 2 orang pegawai yang berasal dari Indonesia, yang bertugas melayani pelanggan, dari mulai menyiapkan sampai menyajikan makanan. Ibu Retno selalu menyambut pelanggan dengan ramah dan bersahabat. Beliau juga selalu menanyakan pada warga Jepang soal rasa masakannya.

Restauran yang baru berdiri 1 tahun lebih (sejak tanggal 31 Mei 2019) ini, bukan hanya dikunjungi oleh warga Indonesia saja loh. Warga Jepang dan negara lainnya pun banyak yang datang untuk menikmati masakan Indonesia yang terkenal “pedas” di sebagian lidah mereka.

Selain menjadi daya tarik bagi masyarakat lokal Jepang yang penasaran dengan cita rasa kuliner Indonesia, tempat ini juga menjadi tempat populer bagi orang-orang dari Indonesia yang rindu dengan makanan khas tanah air ketika pergi merantau di Jepang, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga wisatawan Indonesia yang sedang berlibur.

Menu hidangan di restoran bertajuk warteg ini juga berganti-ganti setiap harinya, seperti halnya warteg yang ada di Indonesia. Harga makanannya pun bervariasi, berkisar antara 1000 hingga 1300 Yen (belum termasuk pajak), tergantung dari lauk yang dipilih. Berbagai macam hidangan khas Indonesia hadir disini yang diolah langsung dengan bumbu-bumbu tradisional, mulai dari gado-gado, ayam cabe hijau, tahu-tempe, teri kering, mie goreng, dan masih banyak lagi.

Siapa bilang di Jepang nggak ada WARTEG? – Dream Fighter

Selain menawarkan harga yang relatif murah seperti khasnya hidangan warteg di Indonesia, porsi yang diberikan juga sangat memuaskan dan cocok dengan perut orang Indonesia.

Jam operasionalnya dari pukul 11:00-21:00 JST.
Alamat : 2 Chome-18-8 Okubo, Shinjuku City, Tokyo 169-0072. Telp : 03-6380-2911

Sekian dari kami, bagi kalian yang ingin melihat reviewnya bisa ditonton di bawah ini yaa

bagi kalian yang ingin membeli produk kami bisa hubungi di Instagram @djawakitchen yaa

Cek juga blog kami lainnya yaa!

Arigatōgozaimashita

Bagikan artikel ini: